Jumat, 21 Juli 2017

Menjaga Lahan Gambut, Menjaga Indonesia

Tags



Menjaga Lahan Gambut, Menjaga Indonesia

Ditulis oleh: Isnadi Esman

 
                                                                        Doc: Didi Esman, Pulau Padang 2016
(Gambar 1: Hutan Alam Gambut Di Pulau Padang)
Pengalaman panjang pengelolaan ekosistem gambut bagi masyarakat yang memiliki kearifan lokal merupakan modal kehidupan yang mendasar sehingga masyarakat gambut mampu bertahan dengan karakteristik gambut yang sangat rentan. Satu hal yang perlu kita ketahui di masyarakat gambut, jika bisa memilih takdir dimana manusia dilahirkan, barang kali tidak ada manusia yang akan memilih untuk dilahirkan di lahan atau di hutan gambut. Dengan begitu, setiap yang dilahirkan, hidup, tumbuh dan berkembang di lahan gambut, maka adaptasi dan kearifan lokallah yang membuat kemampuan untuk bertahan dengan merawat gambut dan menjadikanya sumber kehidupan.
Kata-kata” fungsi hidrologis dan stabilisasi iklim” pastinya bahasa asing nan aneh serta menjadi kumparan kebingungan untuk dicerna dalam pemikiran masyarakat gambut. Namun, kemahiran bawaan (Baca: Kearifan lokal) dengan berbekal teknologi cangkul dan parang sederhana, masyarakat gambut mampu mengelola dan melindungi gambut selama tahun yang tak terhitung (Belum ada referensi siapa dan kapan pengelola gambut pertama di hutan maupun lahan gambut). 


                                        Doc: JMGR, Pulau Padang 2016
(Gambar 2: Kebun Sagu Rakayat (atas) dan Tumpang Sari Karet dan Nenas (bawah), upaya pemanfaatan lahan gambut dengan tetap menjaga keselarasan alam oleh masyarakat gambut di Pulau Padang)







Kemudian deforestasi dan degradasi gambut terjadi ketika Pemanfaatan dengan sistem alih fungsi total tutupan hutan (konversi) dalam skala bentang alam dan selanjutnya pembuatan kanal-kanal pengeringan yang sangat massif adalah pendekatan pengelolaan ekosistem gambut yang telah mengabaikan prinsip-prinsip perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ramah lingkungan selama beberapa dekade belakangan ini.


Doc: Didi Esman, Pulau Padang, 2015
(Gambar 3: Penebangan Hutan Alam dan Penggalian Kanal di Gambut)

Dampak besar dan penting lanjutannya adalah subsidensi atau penurunan permukaan tanah dengan taksiran rata-rata pertahunnnya 5 cm (Hooijer et al 2010). Sedangkan untuk gambut kepulauan seperti Pulau Padang di Kabupaten Kepulauan Meranti, subsidensi terjadi hingga 9-10 cm setiap tahunnya (Riset JMGR, 2014). Sedangkan konversi berlebih yang di lakukan oleh sektor bisnis di Pulau Tebing Tinggi Kabupaten Kepulauan Meranti berdampak menurunya kualitas air yang berimplikasi pada kekeringan dan menurunya kualitas dan kuantitas sagu yang dihasilkan oleh Rumbia (metroxylon spp) sebagai komoditi unggulan masyrakat. 


                                           Doc: JMGR, Pulau Padang, 2014
(Gambar 4: Penurunan Permukaan Tanah (Subsidensi) 9-10 cm/tahun dapat di lihat dari pondasi bangunan yang mencuat ke permukaan tanah)

Menjaga dan memanfaatkan gambut secara arif adalah hal yang sangat realistis dan mampu dilakukan, ketika gambut masih dalam keadaan sebagai mana takdirnya, basah, berpaludikultur dan tidak direkayasa. Merekayasa gambut merupakan titik mula kehancuran ekosistem gambut. Rekayasa mulai terjadi ketika kanal-kanal dibangun dilahan gambut, rekayasa mulai terjadi ketika akar-akar meranti, punak, leban, jelutung, geronggang, kempas dan ratusan jenis tanaman gambut tercerabut dan digantikan dengan bibit-bibit akasia dan sawit yang berasal dari tanah yang sama sekali tak dikenal oleh masyarakat gambut.
Semua rekayasa itu harus di bayar mahal ketika Kebakaran Hutan dan lahan tahun 2015 berdampak kerugian Rp. 220 Triliun, 5o4.000 orang menderita sakit, dan bahkan 2,6 Juta Hektare hutan mengalami kerusakan (setkap.go.id, 2017). Dan yakin angka-angka tersebut belum sepadan dengan masih adanya ratusan bahkan ribuan jiwa-jiwa yang terpapar dampak Karhutla yang tidak terdata, mereka jiwa-jiwa masyarakat gambut yang berada di dalam, disekitar dan bahkan beberapa meter saja dari hutan dan lahan gambut yang hangus terbakar. 


                                  Doc: Istimewa, Pulau Padang 2015
(Gambar 5: KARHUTLA Menghanguskan Ribuan Hektar Kebun Sagu dan Karet Masyarakat)

Berlatar belakang pada situasi itu,Pemerintah bersikap dengan lahirnya Badan Restorasi Gambut (BRG) di republik yang masih kita cintai ini. Akankah itu menjadi solusi nyata? PASTINYA TIDAK!, jika tanpa kerja-kerja kongkrit, jika tanpa didukung banyak pihak, jika tanpa menempatkan masyarakat gambut sebagai bagian penting dalam upaya restorasi. Apa lagi tanpa ada semangat dan keinginan untuk menjaga.
Saat ini, masyarakat gambut masih meletakkan semangat “Menjaga” lahan gambut bagai tahta tertinggi yang pantas untuk dijunjung, karena disitulah letak harapan disitu pula bergantung masa depan. Harapan untuk kembali melihat gambut yang basah, ikan-ikan yang banyak, meranti dan punak yang rimbun tempat lebah madu bergantung, harapan untuk bagai mana sumber-sumber kehidupan kembali membaik, setelah lama terampas dan tercerabut.
Tanpa semangat untuk menjaga, maka bukan hanya masyarakat gambut yang akan kehilangan pulau-pulau gambut dan sumber-sumber kehidupan, bukan hanya jiwa-jiwa tak berdosa yang akan terkena ISPA dan kehilangan nyawa. Namun, kita semualah yang akan kehilangan INDONESIA.

“Lindungi gambut, selamatkan kehidupan, gambut terjaga masyarakat sejatera”
#ayojagagambut #lahangambut #pantaugambut  #gambutmasadepan









EmoticonEmoticon