Minggu, 14 Desember 2014

Inovasi Sederhana dalam Memanfaatkan Air Gambut

Tags



Sistem penyaringan air gambut dengan menggunakan metode grafitasi dan zig-zag flow

 JMGRiau.blogspot.com, Pekanbaru- Hidup di daerah pesisir dan pulau-pulau yang berlahan gambut menjadi sebuah tantangan berat yang harus dihadapi masyarakat lokal untuk bertahan hidup, mulai dari pengelolaan lahan yang kurang subur dibandingkan dengan tanah mineral, bahkan ancaman yang selalu mengintai jika lahan gambut tersebut rusak. Tetapi lebih dari satu abad masyarakat yang tinggal di daerah lahan gambut telah menunjukkan bahwa mereka mampu bertahan hidup dan mengelola lahan gambut dengan kearifan lokal menjadi lahan-lahan perkebunan yang menjadi tumpuan mereka hingga saat ini.
Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan pulau berlahan gambut adalah sulitnya mendapatkan air bersih, selama ini masyarakat hanya mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Jadi jangan heran bila kita lihat disetiap rumah di daerah pulau berlahan gambut banyak menyediakan tempat tadahan air hujan, mulai dari tempayan batu, drum plastik bekas chemical, dan tangki fiber. Sementara air hujan bukanlah air yang bagus untuk dikonsumsi, tetapi masyarakat tidak punya pilihan selain bergantung pada air hujan. Namun permasalahan lain timbul disaat musim kemarau tiba, ketika ketersedian air hujan habis dan musim kemarau masih panjang. Jika sudah seperti ini, masyarakat tetap mengandalkan air gambut untuk memenuhi kebutuhan airnya mulai dari mandi, mencuci, masak, bahkan untuk air minum. Air gambut yang berwarna seperti air teh yang pekat menjadi masalah tersendiri saat untuk mencuci pakaian, terlebih lagi pakaian yang berwarna putih. Sementara jika direbus untuk air minum, air gambut menimbulkan rasa yang sangat asam karena air gambut mempunyai kadar keasaman yang sangat tinggi. Sebagian masyarakat yang mampu sudah banyak yang mencoba membuat sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih, namun hasilnya juga tidak sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini disebabkan karena daerah pesisir dan pulau-pulau dengan lahan gambut yang dikelilingi oleh laut, membuat air tanah dengan kedalaman 30-50 meter sudah dipengaruhi oleh air laut. Sehingga air yang dihasilkan dari sumur bor rata-rata asin seperti air laut.
Menyikapi permasalahan tersebut, Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) bersama dengan pihak Universitas Riau yang dipimpin oleh Dr. Ady Prayitno ( Dosen Teknik UR) melakukan riset untuk membuat alat dan cara sederhana untuk proses penyaringan air gambut sehingga menghasilkan air bersih. Dengan peralatan sederhana ini, diharapkan masyarakat yang tinggal di daerah gambut bisa belajar dan mampu membuat peralatan tersebut dengan harga yang murah. Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak lagi bergantung pada air hujan untuk kebutuhan air bersihnya. 
Dr. Ady Prayitno saat menjelaskan teknik penyaringan air gambut kepada masyarakat Desa Sungai Tohor.

Sampel air gambut dan sampel air yang telah melalui proses penyaringan
Untuk itu pada tanggal 03 sampai tanggal 05 Desember 2014 yang lalu, Tim dari Universitas Riau yang dipimpin oleh Dr. Ady Prayitno bersama Jaringan Masyarakat Gambut Riau (JMGR) memberikan pelatihan dan penjelasan tentang teknik penyaringan air gambut di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti. Alat penyaringan tersebut terdiri dari beberapa buah tabung yang terbuat dari potongan pipa yang didalamnya berisi pasir, kerikil, dan karbon aktif yang disusun dengan teknik tertentu sehingga menjadi sebuah alat penyaring. Oleh Dr. Ady Prayitno sistem penyaringan ini diberi nama “Sistem Penyaringan Air Gambut Dengan Menggunakan Metode Grafitasi dan Zig-zag Flow”.(AS)


EmoticonEmoticon