Senin, 17 November 2014

TIPOLOGI HUTAN WILAYAH PESISIR DAN ANCAMANYA

Tags

Hutan pesisir adalah suatu daerah sepanjang garis pantai yang merupakan transisi antara laut dan darat yang berfungsi sebagai habitat dari tumbuhan yang beradaptasi baik dengan lingkungan peisisir (semi marine environment). Dengan ekosistem dan tipe tumbuhan yang khas, karakteristik daerah yang sempit ini sangat bervariasi, ada yang hanya secuil (beberapa meter) ada juga yang jauh menjorok ke daratan hingga ratusan kilometer. Daerah hutan pesisir mencakup berbagai bentukan lahan mulai dari dataran lumpur (mud flats), pantai berpasir, delta, tepi sungai, estuari, dan bahkan lereng bebatuan yang sangat curam sekalipun. FAO  mengelompokan tipe hutan pesisir berdasarkan dominasi tumbuhan dan faktor iklim sbb:

Hutan Bakau (Mangrove): Hutan bakau termasuk ke dalam tipe hutan pantai yang paling umum dijumpai di daerah pantai yang relative terlindungi dari hempasan gelombang baik itu di daerah tropis maupun subtropis. Kemampuannya untuk bertahan di rawa-rawa dengan tanah yang anoxic (minim oxygen terlarut) merupakan kunci keberhasilan beradaptasi di daerah transisi ini. Hutan Mangrov merupakan benteng utama untuk perlindungan hutan dan lahan gambut terhadap abrasi dan intrusi air laut. Oleh karena itu penyelamatan hutan dan lahan gambut merupakan bagian tidak terpisahkan juga dari perlindungan dan penyelamatan hutan mangrov diwilayah pesisir.

Hutan Pantai (Beach forest): Hutan jenis ini umumnya dijumpai di atas garis pasang air tertinggi ditandai dengan habitat tanah berpasir yang kadang bercampur dengan lahan pertanian atau hutan daratan. Contoh dari tumbuhan hutan pantai adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia), kelapa (Cocos nucifera), waru laut, dll.

Hutan Rawa Gambut (Peat swamp forest): Hutan jenis ini dikelompokan karena habitatnya yang terdiri dari rawa gambut. Dataran rendah seperti negeri Belanda (itulah mengapa belanda disebut ‘Netherlands’ yang artinya ‘tanah rendah’) dulunya merupakan hutan rawa gambut. Gambut digali dan diambil untuk kebutuhan pemanas di musim dingin. Akibatnya tanah belanda yang rendah menjadi semakin rendah. Dan setelah gambutnya habis, mereka pun membangun tanggul – tanggul, memperluas lahan pertanian dan  mendirikan kota – kota besar seperti Amsterdam dan Rotterdam. 

Di Indonesia Hutan Gambut di konversi menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Perkebunan Sawit melalui perizinan yang diberikan oleh Pemerintah melalui Kementrian Kehutanan. Tata Kelola Gambut berbasis investasi menimbulkan dampak yang buruk bagi ekosistem Hutan dan lahan gambut.

Pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan dan tanaman industri tergolong sangat rawan, Terutama jika dilaksanakan pada gambut dalam.  Kenapa?
Jawaban yang pasti adalah jika lahan gambut dalam dimanfaatkan untuk pengembangan komoditi-komoditi diatas, maka mengharuskan adanya upaya menyesuaikan kondisi air lahan atau mengeringkan lahan dengan cara membuat saluran drainase atau kanal. Sedangkan untuk jenis gambut pantai di daerah pasang surut, pembuatan drainase atau kanal ditujukan untuk menyalurkan air ke bagian dalam (beberapa kilometer dari tepi sungai atau laut).

Tanpa membuat saluran drainase atau kanal pada gambut pedalaman, dipastikan hanya jenis pohon asli setempat (ramin, meranti rawa, jelutung, gemor, dll) yang bisa tumbuh dalam kondisi jenuh air atau daerah yang dominan basah. Dibalik pembuatan drainase yang menyebabkan penurunan air tanah, maka terjadi perubahan suhu dan kelembaban di lapisan gambut dekat permukaan, sehingga mempercepat proses pelapukan dan permukaan gambut semakin menurun. Penurunan Permukaan gambut tersebut akan menyebabkan subsidensi berlebih dan masuknya air laut ke daratan/Intrusi.  (IE)    


EmoticonEmoticon