Selasa, 18 November 2014

Mengenal Gambut di Sekitar Kita

Tags



gambar proses pembentukan lapisan gambut


Sebagian besar masyarakat kita umumnya yang berada didaerah pesisir Riau tinggal di daerah lahan gambut. Jauh sebelum indonesia merdeka masyarakat telah mengelola lahan gambut untuk dijadikan lahan perkebunan, seperti perkebunan karet, kelapa, sagu, dan lainnya. Masyarakat kita dari dulu mengenal gambut adalah lapisan atas tanah yang berupa serabut yang sebenarnya merupakan lapisan akar rumput pakis yang banyak tumbuh di lahan gambut. Namun dengan banyaknya informasi yang masuk ke desa-desa, baik melalui media maupun informasi secara langsung yang disampaikan oleh lembaga atau organisasi masyarakat yang konsen dengan permasalahan gambut membuat pemahaman masyarakat sekarang ini telah berubah dalam mengenal gambut.
Apakah yang disebut dengan Gambut?
Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi (tumpukan) sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yang setengah membusuk, oleh karena itu kandungan bahan organiknya sangat tinggi. Tanah yang biasanya terbentuk di lahan-lahan basah ini disebut dalam bahasa inggris sebagai peat, dan lahan-lahan bergambut diberbagai belahan dunia dikenal dengan aneka nama seperti bog, moor, muskeg, pocosin, mire, dan lain-lain. Sedangkan istilah gambut itu sendiri diserap dari bahasa daerah Banjar.
Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Volume gambut diseluruh dunia diperkirakan berjumlah 4 trilyun m³, yang menutupi wilayah sebesar ± 3 juta km² atau sekitar 2% luas daratan di dunia, dan mengandung potensi energi sekitar 8 miliar terajoule (satuan energi). Deposit gambut tersebar di banyak tempat di dunia selain Indonesia, terutama di Rusia, Belarusia, Polandia, Jerman Utara, Belanda, Skandinavia, dan di Amerika Utara khususnya di Kanada, Michigan, Minnesota, Everglades di Florida, dan di delta sungai Scaramento San Joaquin di Kalifornia. Kandungan gambut dibelahan bumi Selatan lebih sedikit, karena lahannya lebih sempit, namun gambut dapat dijumpai di Selandia Baru, Kerguelen, Patagonia Selatan/Tierra Del Feugo dan Kepulauan Falkland. Sekitar 60% lahan basah di dunia adalah gambut, dan sekitar 7% dari lahan-lahan gambut itu telah dibuka dan dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian dan kehutanan. Manakala kondisinya sesuai, gambut dapat berubah menjadi sejenis batubara setelah melewati periode waktu geologis.
Pembentukan Gambut
Gambut terbentuk tatkala bagian-bagian tumbuhan yang luruh terhambat pembusukannya, biasanya di lahan-lahan berawa yang kadar keasamannya tinggi atau kondisi anaerob di perairan setempat. Tidak mengherankan jika sebagian besar tanah gambut tersusun dari serpihan dan kepingan sisa tumbuhan, daun, ranting, pepagan, bahkan kayu-kayu besar yang belum sepenuhnya membusuk. Kadang-kadang ditemukan pula sisa-sisa bangkai binatang dan serangga yang turut terawetkan di dalam lapisan-lapisan gambut, hal ini disebabkan karena ketiadaan oksigen sehingga menghambat proses penguraian.
Lazimnya di dunia, disebut sebagai gambut apabila kandungan bahan organik dalam tanah melebihi 30%, akan tetapi hutan-hutan gambut di Indonesia umumnya mempunyai kandungan melebihi 65% dan kedalamannya melebihi dari 50 centimeter. Tanah dengan kandungan bahan organik antara 35-65% juga biasa disebut muck.
Pertambahan lapisan-lapisan gambut dan derajat pembusukan (humifikasi) terutama bergantung pada susunan gambut dan intensitas penggenangan. Gambut yang terbentuk pada kondisi yang teramat basah akan kurang terurai, dan dengan demikian penumpukannya tergolong cepat, dibandingkan dengan gambut yang terbentuk di lahan-lahan yang lebih kering. Sifat-sifat ini yang memungkinkan para klimatolog (peneliti tentang perubahan iklim) menggunakan gambut sebagai indikator perubahan iklim di masa lampau. Kemudian dengan melalui analisis terhadap komposisi gambut, terutama tipe dan jumlah penyusun bahan organiknya, para ahli arkeologi dapat merekonstruksi gambaran ekologi di masa purba.
Pada kondisi yang tepat, gambut juga merupakan tahap awal pembentukan batubara. Gambut bog yang terkini, terbentuk di wilayah lintang tinggi pada akhir Zaman Es atau sekitar 9.000 tahun silam. Gambut ini masih terus bertambah ketebalannya dengan laju sekitar beberapa milimeter setahun. Namun gambut dunia diyakini mulai terbentuk tak kurang dari 360 juta tahun yang silam, dan kini menyimpan sekitar 550 Giga ton karbon.
Gambut di Indonesia
Luas lahan rawa gambut di Indonesia diperkirakan 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Gambut di Indonesia sebagian besar ada di Pulau Irian Jaya, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sumatera. Luas lahan gambut di Sumatera diperkirakan berkisar antara 7,3 sampai 9,7 juta hektar atau kira-kira seperempat luas lahan gambut di seluruh daerah tropika. Gambut terluas di Sumatera berada di Propinsi Riau dengan luasan 4,04 juta hektar (Wetlands International) yang artinya 56% dari seluruh luasan gambut di Sumatera dan 45% dari total luas daratan Propinsi Riau. Sebaran lahan gambut di Propinsi Riau sebagian besar terdapat di wilayah Timur dan berada di sekitar wilayah pesisir Riau.
Tabel Luasan Gambut Riau (sumber data : BLH Propinsi Riau)
No
Kabupaten
Luas gambut (Ha)
%
1
Bengkalis dan Kepulauan Meranti*
856.386
21,23
2
Indragiri Hilir
982.524
24,36
3
Indragiri Hulu
222.396
5,51
4
Rokan Hilir
453.874
11,25
5
Rokan Hulu
50.481
1,25
6
Siak
503.669
12,49
7
Pelalawan
679.731
16,85
8
Dumai
159.596
3,96
9
Kampar
119.775
2,97
10
Pekanbaru
5.231
0,13

Total
4.033.663
100%
*Data diambil sebelum pemekaran Kabupaten Kepulauan Meranti
Menurut kondisi dan sifat-sifatnya, gambut disini dapat dibedakan atas gambut topogen dan gambut ombrogen.
-          Gambut topogen adalah lapisan tanah gambut yang terbentuk karena genangan air yang terhambat drainasenya pada tanah-tanah cekung di belakang pantai, di pedalaman atau pegunungan. Gambut jenis ini umumnya tidak begitu dalam, hingga 4 meter saja, tidak begitu asam airnya dan relatif subur dengan zat hara yang berasal dari lapisan tanah mineral di dasar cekungan, air sungai, sisa-sisa tumbuhan, dan air hujan. Gambut topogen relatif tidak banyak dijumpai.
-          Gambut ombrogen adalah lapisan tanah gambut yang sering dijumpai, meski semua gambut ombrogen bermula sebagai gambut topogen, namun gambut ombrogen lebih tua umurnya. Pada umumnya, gambut ombrogen mempunyai lapisan yang lebih tebal, hingga kedalamannya 20 meter, dan permukaan tanah gambutnya lebih tinggi daripada permukaan sungai di dekatnya. Kandungan unsur hara tanah sangat terbatas, hanya bersumber dari lapisan gambut dan air hujan, sehingga kurang subur. Sungai-sungai atau drainase yang keluar dari wilayah gambut ombrogen mengalirkan air yang keasamannya tinggi (pH 3,0-4,5), mengandung banyak asam humus dan warnanya coklat kehitaman seperti air teh yang pekat.
Gambut ombrogen kebanyakan terbentuk tidak jauh dari pantai. Tanah gambut ini kemungkinan bermula dari tanah endapan mangrove yang kemudian mengering, kandungan garam dan sulfida (bahan kimia) yang tinggi di tanah itu mengakibatkan hanya sedikit dihuni oleh jasad-jasad renik pengurai. Dengan demikian lapisan gambut mulai terbentuk di atasnya.
Manfaat lahan gambut
Masyarakat yang tinggal di wilayah gambut secara turun temurun memanfaatkan lahannya untuk budidaya pertanian, peternakan, dan perikanan air tawar. Untuk pertanian, selain menanam sayur mayur masyarakat juga mengembangkan perkebunan karet, kelapa, dan juga sagu. Selain itu, menurut pakar lingkungan, lahan gambut sangat bermanfaat sebagai daerah resapan, sumber air, dan cadangan air. Bahkan ketika pemanasan global dan perubahan iklim menjadi permasalahan dunia, keberadaan lahan gambut semakin penting karena mampu menahan emisi gas rumah kaca (seperti karbon dan metan), yang merupakan salah satu penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Lahan gambut diseluruh dunia menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar yaitu sekitar 528 giga ton (528 Miliar ton) setara dengan sepertiga karbon di bumi ini. Karbon ini sekaligus merupakan ancaman karena dapat melepaskan C02 (karbondioksida) ke atmosfir, apabila lahan gambut tidak terjaga dengan baik atau rusak.
Ancaman terhadap lahan gambut
1.      Pengeringan lahan gambut, seperti pembuatan kanal-kanal besar yang mengakibatkan materi gambut bereaksi dan beroksidasi (kehilangan Hidrogen) yang kemudian lahan menjadi kering. Proses oksidasi ini menghasilkan emisi C02 (karbondioksida) karena sekitar 50-60% unsur kering gambut adalah karbon.
2.      Pembukaan lahan gambut secara besar-besaran dapat menyebabkan pelepasan emisi ke udara dan juga menyebabkan meningkatnya suhu udara disekitar tanah gambut disaat musim kemarau.
3.      Kebakaran di lahan gambut dipicu karena faktor kering dan telah terdegradasinya (penurunan kualitasnya) lahan gambut. Kebakaran sangat jarang terjadi di lahan gambut apabila tidak dikeringkan dan tidak terdegradasi, hal ini disebabkan secara alami kadar kelembaban lahan gambut sangat tinggi.(AS)
<Dikutip dari berbagai sumber.>


EmoticonEmoticon