Kamis, 26 September 2013

Restorasi Kawasan Gambut Semenanjung Kampar Didialogkan di LAM Riau



Lebih dari 20 ribu kawasan gambut di Semenanjung Kampar, Pelalawan akan direstorasi. 
Program tersebut didialogkan bersama di LAM Riau.
Riauterkini-PEKANBARU-Kementerian Kehutanan RI melakukan prioritas program 2009–2014 peningkatan produktivitas dan pengelolaan hutan alam produksi, yang salah satunya dilakukan dengan penerbitan ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu melalui restorasi.

Program tersebut mendukung kebijakan prioritas lainnya seperti Konservasi keanekaragaman hayati, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, dan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Kementerian Kehutanan menargetkan penerbitan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam dan atau Restorasi Ekosisistem (IUPHHK-HA/RE) pada areal bekas tebangan (logged over area/LOA) seluas 2,5 juta ha, sebagaimana tertulis dalam dokumen rencana strategis Kementerian Kehutanan tahun 2010-2014. 

Usaha Restorasi Ekosistem (RE) merupakan solusi inovatif pengelolaan hutan pada hutan produksi di Indonesia yang mengintegrasikan antara pemanfaatan hasil hutan dan jasa lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya, serta pemulihan ekosistem. Dalam hal pemanfaatan hasil hutan, usaha RE lebih meprioritaskan usaha pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan jasa lingkungan serta pemanfaatan kawasan.

Restorasi ekosistem sesuai ketentuan Menhut RI bertujuan untuk membangun kawasan dalam hutan alam pada hutan produksi yang memiliki ekosistem penting sehingga dapat dipertahankan fungsi dan keterwakilannya melalui kegiatan pemeliharaan, perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan termasuk penanaman, pengayaan, penjarangan, penangkaran satwa, pelepasliaran flora dan fauna untuk mengembalikan unsur hayati (flora dan fauna) serta unsur non hayati (tanah, iklim dan topografi) pada suatu kawasan kepada jenis yang asli, sehingga tercapai keseimbangan hayati dan ekosistemnya.

Menurut Menhut RI, restorasi merupakan upaya membangun kembali struktur, produktivitas dan keanekaragaman hayati yang awalnya ada di suatu wilayah yang telah terdegradasi, rusak atau hancur dalam waktu tertentu, proses ekologi dan fungsi habitat dipulihkan mendekati dengan habitat aslinya (United Nations Environment Programme, UNEP; 2010).

Kebijakan RE diawali terbitnya Permenhut SK.159/Menhut-II/2004 tentang Restorasi Ekosistem di Hutan Produksi. Melalui kebijakan tersebut, RE di hutan produksi menjadi satu jenis Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan (IUPHH) baru yang selanjutnya dikenal dengan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE). IUPHHK-RE dalam tataran konsepnya menjalankan kegiatan pada orientasi pemantapan kawasan, pengelolaan hutan berbasis ekosistem untuk perbaikan nilai ekonomi hutan, pemulihan flora dan fauna yang mempunyai nilai penting, dan memberi manfaat secara ekonomi kepada masyarakat sekitar hutan.

Kemudian payung kebijakan permenhut di atas dikeluarkan pada tahun 2007 melalui (PP.6/2007 jo PP.3/2008). Dalam PP tersebut, tersirat bahwa IUPHHK-RE adalah izin pemanfaatan hutan dalam Hutan alam produksi yang memungkinkan untuk kepentingan pemulihan ekosistem, pelestarian keanekaragaman hayati serta pengelolaan aneka usaha kehutanan (multiple use of products), serta pengembangan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Artinya, bahwa dalam izin tersebut terdapat fleksibilitas dan improvisasi berbagai kegiatan pemantapan dan restorasi, usaha pemanfaatan kayu dan bukan kayu, dan jasa lingkungan.

Selanjutnya mekanisme pemberian izin IUPHHK RE diatur melaui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.61/Menhut-II/2008, yang kemudian diperbaharui melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.50/Menhut-II/2010 jo. Nomor P.26/Menhut-II/2012.

Sebagai salah satu pemegang izin di Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, APRIL/RAPP memiliki kepentingan untuk mewujudkan kelestarian ekosistem gambut Semenanjung Kampar secara kesatuan bentang alam (landscape). Konsep ini memungkinkan pemanfaatan areal terluar Semenanjung Kampar sebagai areal produksi kehutanan (ring concept), dan melindungi bagian tengah (core area) yang berupa kubah gambut yang berfungsi sebagai reservoir sistem hydro-orologis (tata air) wilayah tersebut. 

Hasil kajian jangka panjang yang dilakukan oleh APRIL/RAPP dengan melibatkan pakar-pakar gambut dan hidrologi menghasilkan teknologi pengelolaan sumber daya air best-practice yang dikenal sebagai ekohidro. Teknologi ekohidro merupakan teknik pengelolaan air dengan mendisain adanya wilayah penyangga (hydro-buffer) sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan gambut dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Menurut Direktur PT Gemilang Cipta Nusantara, Dian Novarina dalam Dialog Restorasi Ekosistem dalam Pandangan Adat dan Budaya melayu Rabu (25/9/13) mengatakan bahwa APRIL/RAPP telah mengidentifikasi areal restorasi ekosistem PT. Gemilang Cipta Nusantara memiliki peran penting sebagai perlindungan sistem hydro-orologis bentang alam Semenajung Kampar dan merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan ekohydro. Areal ini memiliki potensi sebagai sumber kebocoran jika tidak dikelola dengan baik, karena banyak kanal-kanal yang dibangun dimasa lalu tidak sesuai dengan kaidah hidrologis di lahan gambut, yang bisa menyebabkan drainase berlebihan (over-drainage) dan kekeringan gambut.

PT. GCN, tambahnya, merupakan pemegang IUPHHK-RE di Semenanjung Kampar dengan luas 20.265 Ha, melalui Keputusan Menteri Kehutanan No: SK.395/Menhut-II/2012 tanggal 24 Juli 2012. GCN merupakan bentuk komitmen APRIL/RAPP untuk pelestarian ekosistem Semenanjung Kampar melalui program yang disebut Restorasi Ekosistem Riau (RER).

RER Menurut Dian merupakan suatu inisiatif model pendekatan baru bagi program restorasi ekosistem di tengah permasalahan pengelolaan hutan dan lingkungan hidup di Indonesia, melalui kolaborasi pendanaan swasta dan lembaga non-profit, serta kemitraan dengan para pihak yang memiliki komitmen yang sama untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

"RER memiliki komitmen untuk turut aktif dalam pembangunan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management) melalui restorasi ekosistem, dan mendukung upaya pemerintah dalam rangka pengurangan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global, dan mengoptimalkan hasil hutan bukan kayu serta jasa-jasa lingkungan, yang berkontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup," terangnya.

RER, kata Dian Novarina akan menerapkan 4 (empat) tahapan dalam merestorasi ekosistem seperti melindungi (Protect) Kawasan hutan di Indonesia yang menghadapi ancaman dari meningkatnya pembalakan liar, pembukaan lahan ilegal dan perburuan satwa liar, kebakaran hutan dan penurunan kandungan air dari hutan rawa gambut. RER akan mengadopsi strategi perlindungan yang mencakup kombinasi skema perlindungan, penjagaan dan patroli bersama dengan masyarakat. RER akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk memastikan solusi yang dapat dijalankan secara efektif.

Juga mengkaji potensi sumberdaya hutan termasuk hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan, serta keterkaitan antara komponen ekologi, sosial, budaya, dan ekonomi, untuk mendukung pemanfaatan yang berkelanjutan. Merestorasi (Restore): Meningkatkan potensi sumberdaya hutan melalui kegiatan restorasi dengan tumbuhan asli setempat, yang didukung oleh teknologi dan pengalaman yang mumpuni. Melakukan perbaikan wilayah gambut (re-wetting) dengan melakukan penutupan kanal-kanal liar dengan teknologi yang tepat. Tidak kalah pentingnya juga dengan melakukan kerja sama dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam upaya restorasi, dengan memperhatikan kearifan lokal dan nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat.

"RER juga menerapkan praktek-praktek pengelolaan terbaik yang didukung oleh pendanaan yang memadai, sumberdaya yang handal dan berpengalaman dalam pengelolaan hutan. Dengan mitra yang beragam, RER memiliki pengetahuan, keahlian dan kemampuan untuk melaksanakan upaya-upaya restorasi. RER juga akan dapat memperoleh pengalaman berbagai mitra kami dalam pengelolaan kawasan konservasi hutan gambut bernilai tinggi," terangnya.

RER memiliki komitmen untuk turut aktif dalam pembangunan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management) melalui restorasi ekosistem, dan mendukung upaya pemerintah dalam rangka pengurangan emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global, dan mengoptimalkan hasil hutan bukan kayu serta jasa-jasa lingkungan, yang berkontribusi positif terhadap pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. 

"Sebagai lembaga nirlaba yang memiliki komitmen untuk menjalankan restorasi ekosistem yang komprehensif terhadap kawasan hutan gambut yang penting secara ekologis di Semenanjung Kampar Indonesia, RER menjalankan tanggung jawab sosial, ekonomis dan lingkungan secara berkelanjutan. RER berkomitmen untuk melakukan upaya restorasi ekosistem yang komprehensif bagi kawasan penting hutan gambut di Semenanjung Kampar demi menjalankan tanggung jawab lingkungan, ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.," kata Dian.

Sebagai program restorasi ekosistem jangka panjang RER akan mengaplikasikan pendekatan ilmiah dalam merestorasi dan melindungi 20.265 hektar hutan gambut sebagai area hutan keanekaragaman hayati yang dilindungi. Didukung oleh sumber daya permanen dan keahlian dari berbagai mitra, RER akan bekerja sama dengan masyarakat setempat yang tinggal disekitar kawasan untuk melengkapi upaya konservasi yang ada di Semenanjung Kampar.

"Visi lebih luas RER adalah untuk melindungi wilayah yang lebih luas yaitu pada bentang alam (landscape) Semenanjung Kampar. Program ini akan menciptakan sebuah model kolaborasi dari berbagai lapisan masyarakat yang bekerja sama untuk mencapai kepentingan dan tujuan lingkungan yang sama," kata Dian.

Disinggung mengenai mitra dalam pelaksanaan restorasi, Dian mengatakan bahwa mitra RER dalam rangka mewujudkan tujuan restorasi ekosistem tersebut adalah para pemangku kepentingan di Semenanjung Kampar dan Riau: RER memahami bahwa keberhasilan upaya restorasi ekosistem akan dapat dicapai dengan dukungan para pemangku kepentingan di wilayah kerja RER. 

RER terbuka untuk menerima saran dan masukan konstruktif bagi upaya-upaya untuk merestorasi ekosistem. Fauna and Flora International (FFI): Sebagai salah satu mitra penting dari inisiatif ini adalah Fauna & Flora International (FFI), suatu organisasi nirlaba. FFI melindungi spesies dan ekosistem yang terancam, memilih solusi yang berkelanjutan, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang tepat dan mempertimbangkan kebutuhan manusia. FFI akan membantu dalam merancang dan mengembangkan kerangka kerja manajemen RER, kebijakan dan praktek yang berkaitan dengan isu iklim, hubungan masyarakat serta penilaian keanekaragamaan hayati dan perlindungannya. 

Kemudian Bidara yang merupakan organisasi non-politik dan non-pemerintah yang berfokus pada penguatan modal sosial, inisiatif dan kemandirian masyarakat pedesaan di Indonesia. Bidara akan memeberikan saran tentang pengembangan program untuk mendorong pendekatan pengelolaan lingkungan dan keahlian yang tepat untuk mendukung upaya restorasi ekosistem diantara masyarakat sekitar kawasan hutan RER.

Daemeter juga akan dirangkul GCN sebagai mitra dalam melakukan restorasi yang akan memberikan dukungan teknis, adalah sebuah perusahaan konsultan independen yang mempromosikan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan di Indonesia. Serta Asia Pacific Resources Limited (APRIL) yang menjadi inisiator bagi program RER, dalam kegiatan usahanya menerapkan praktek keberlanjutan dalam industri pulp dan kertas di Indonesia, dengan pengetahuan serta keahlian selama lebih dari satu dekade dalam pengelolaan dan pelestarian hutan gambut tropis bernilai tinggi. APRIL akan berkontribusi dalam pendanaan RER, memberikan dukungan teknis dan lainnya bagi RER untuk memastikan upaya restorasi yang efektif dalam jangka panjang.

"Keberagaman mitra dalam mengelola restorasi ekosistem merupakan petuah adat Melayu agar senantiasa menjalin kerjasama dalam pembangunan untuk kebaikan bersama. Serta penerapan Standar CCB (Climate Community and Biodiversity/Iklim, Masyarakat dan Keanekaragaman hayati," terangnya.

Tokoh Budayawan Melayu Riau, Tenas Effendy, dalam karyanya “Tegak Menjaga Tuah, Duduk Memelihara Marwah menjelaskan bahwa perhatian orang Melayu terhadap alam sekitarnya sangat tinggi. Orang Melayu selalu menjaga keseimbangan dan harmonisasi alam tersebut, sehingga alam merupakan bagian dari tata kehidupan mereka.

Dalam perspektif budaya Melayu, hutan berfungsi sebagai marwah, hutan sebagai sumber nilai budaya dan hutan sebagai sumber ekonomi. Sementara tanah atau lahan berfungsi untuk pemukiman, lahan untuk peladangan dan lahan untuk hutan rimba larangan. Kearifan tersebut merupakan bentuk penjagaan terhadap sumberdaya alam yang harus dilestarikan keberadaanya.

Namun, dalam dua dasawarsa terakhir, kata Tenas sumberdaya alam terutama produksi hasil hutan terus mengalami penurunan dan menyebabkan banyak konsesi tidak dapat melanjutkan operasionalnya. Kondisi tersebut telah melahirkan ide baru yang inovatif dalam rangka pengelolaan hutan yang rusak (logged over area) untuk pemanfaatan yang berkelanjutan melalui restorasi ekosistem.

Restorasi ekosistem menurut Tenas Effendi adalah bertujuan untuk membangun kawasan dalam hutan alam pada hutan produksi yang memiliki ekosistem penting sehingga dapat dipertahankan fungsi dan keterwakilannya melalui kegiatan pemeliharaan, perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan termasuk penanaman, pengayaan, penjarangan, penangkaran satwa, pelepasliaran flora dan fauna untuk mengembalikan unsur hayati (flora dan fauna) serta unsur non hayati (tanah, iklim dan topografi) pada suatu kawasan kepada jenis yang asli, sehingga tercapai keseimbangan hayati dan ekosistemnya.***(H-we)



EmoticonEmoticon