Selasa, 05 Maret 2013

“Sempolet”, Makanan Khas Melayu yang Terancam

Tags

Pernahkan anda mendengar nama makanan “SEMPOLET”? Makanan ini adalah salah satu makanan yang berbahan dasar sagu dan dicampur dengan sayuran dan ikan seperti teri dan udang. Makanan khas melayu ini menjadi kegemaran beberapa pejabat di Kabupaten Kepulauan Meranti Propinsi Riau. Makanan ini sering disuguhkan pada perhelatan pemerintah di Kabupaten kepulauan Meranti dan makanan ini sudah ada semenjak puluhan tahun yang lalu.

Sempolet, merupakan salah satu makanan khas Melayu 

Proses pengolahan makanan ini cukup sederhana, tepung sagu di campurkan pada air mendidih sambil diaduk-aduk sampai mengental dan menjadi kuah. Lalu ditambahkan dengan sayuran serta ikan serta bumbu masakan sederhana. Proses pemasakan cukup hanya sekitar 15 menit saja lalu siap di hidangkan. Bahan makanan dari sagu ini di produksi sendiri oleh masyarakat dengan adanya kilang-kilang pengolahan sagu masayarakat di sekitar.

Wilayah sebaran kilang-kilang sagu ini terdapat di seluruh daratan Kabupaten Kepulauan Meranti sehingga kabupaten ini terkenal dengan hasil sagunya. Banyaknya perkebunan sagu masyarakat di seluruh daratan Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini menjadi pendapatan sebagian masyarakat.

Kabupaten Kepulauan Meranti berdiri pada tahun 2009 yang dimekarkan dari Kabupaten Bengkalis dan menjadi kabupaten termuda di propinsi Riau. Terdapat 4 pulau besar di Kabupaten ini yaitu, Pulau Tebing Tinggi, Pulau Rangsang, Pulau Merbau dan Pulau Padang. Topografi kepulauan ini sebagian besarnya adalah dataran rendah bergambut dengan kedalaman gambut bervariasi antara 1 sampai 8 meter. Tinggi rata-rata daratan berkisar antara 4-7 meter dari permukaan laut. Kondisi topografi seperti ini sangat cocok untuk tanaman sagu, sehingga sagu juga dapat dikatakan menjadi icon Kabupaten Kepulauan Meranti.

Berdirinya Kabupaten Kepulauan Meranti ini juga akhirnya membuat banyak perkembangan di masyarakat. Program pembangunan di berbagai sektor tentunya menjadi prioritas utama pemerintah baik kabupaten, propinsi maupun pusat yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi sebahagian besar program ini ternyata malah merugikan masyarakat karena tanpa pertimbangan dari aspek sosial dan lingkungan serta pengabaian masyarakat dalam menentukan program pembangunan. Hal ini juga berdampak pada gejolak sosial di masyarakat. Saat ini di ketiga pulau besar yaitu Pulau Tebing Tinggi, Pulau Rangsang dan Pulau Padang terdapat investasi kehutanan dengan komoditas utama adalah akasia.

Perusahaan tersebut adalah PT. RAPP di Pulau Padang, PT. Sumatera Riang Lestari di Pulau Rangsang dan PT. Lestari Unggul Makmur di Pulau Tebing Tinggi. Ketiga perusahaan ini pada prakteknya akan melakukan land clearing hutan alam dan kemudian digantikan dengan tanaman akasia. Mereka juga membuat kanal-kanal sebagai sarana transportasi air dan pengeringan gambut. Pembuatan kanal-kanal ini pada akhirnya menyebabkan ekosistem gambut terganggu karena terjadi perubahan kondisi air dan tanah. Hal ini juga pada akhirnya membuat tanaman khas gambut akan terganggu. Seperti tanaman sagu yang membutuhkan daerah basah, apabila dikeringkan membuat produksi tepung pada tanaman sagu berkurang.


Jika proses pengrusakan ekosistem gambut ini berlangsung lama, maka dapat merugikan masyarakat dan pada akhirnya membuat produksi sagu masyarakat berkurang dan bahkan mungkin saja akan hilang. Apabila itu terjadi, akankah kita masih dapat menikmati SEMPOLET dimasa yang akan datang apabila tanaman sagu sudah tidak tumbuh lagi di Pulau-pulau ini?(@lim/ JMGR).


EmoticonEmoticon